Reglemen Acara Perdata/Buku Pertama/Bab II/Bagian 1

Galat templat: mohon jangan hapus parameter kosong (lihat petunjuk gaya dan dokumentasi templat).
Reglemen Acara Perdata/Buku Pertama/Bab II/Bagian 1
REGLEMEN ACARA PERDATA

(Reglement op de Rechtsvordering.)
(S. 1847-52 jo. 1849-63.)
BUKU PERTAMA : TATA CARA BERPERKARA DI RAAD VAN JUSTITIE DAN HOOGGERECHTSHOF

BAB II TATA CARA BERPEKARA DI RAAD VAN JUSTITIE DAN HOOGERECHTSHOF DALAM TINGKAT PERTAMA

Bagian 1. Gugatan.


Pasal 99.

(1) Seorang tergugat dalam perkara pribadi yang murni mengenai benda-benda bergerak dituntut di hadapan hakim di tempat tinggalnya. (ISR. 136; KUHPerd. 1724; Rv. 100, 102, 133, 244-2', 260, 926; IR. 118.)

(2) Jika tempat tinggalnya di Indonesia tidak dikenal, di hadapan hakim di tempat tinggalnya yang nyata. (KUHPerd. 17; Rv. 6-70.)

(3) Jika ia tidak mempunyai tempat tinggal yang diakui, di hadapan hakim di tempat tinggal penggugat. (Rv. 100.)

(4) Jika mengenai pemegang-pemegang saham tidak atas nama dalam pinjaman pinjaman uang atau perserikatan-perserikatan yang tidak diketahui siapa pemiliknya, maka mereka juga digugat di hadapan hakim di tempat tinggal penggugat. (KUHD 40 dst.; Rv. 6-70.)

(5) Jika dalam hal-hal tersebut di atas ada beberapa penggugat, gugatan dilakukan di hadapan hakim dari salah satu di antara para penggugat atas pilihan mereka.

(6) (s. d. u. dg. S. 1912-521.) Dalam hal ada beberapa tergugat, di hadapan hakim di tempat tinggal salah satu tergugat atas pilihan penggugat. Dalam hal para tergugat satu sama lain mempunyai hubungan sebagai tergugat pokok dan penjamin, maka gugatan dilakukan di hadapan hakim di tempat tinggal orang yang menjadi tergugat pokok atau salah satu dari mereka, kecuali dalam hal yang diatur dalam alinea kedua pasal 6 RO.

(7) (s. d. t. dg. S. 1912-521.) Jika gugatan mengenai tagihan pembayaran benda-benda bergerak yang telah dijual dan diserahkan dapat dilakukan baik di hadapan hakim di tempat tinggal tergugat maupun di hadapan hakim di tempat tinggal pembayar, maka gugatan seharusnya dilakukan atas pilihan penggugat. (Rv. 9262.)

(8) Dalam perkara mengenai hak atas benda tetap, di hadapan hakim yang di wilayah hukumnya terletak benda tetap tersebut. (Rv. 102; KUHPerd. 506 dst.)

(9) Dalam hal benda-benda tetap terletak di dalam wilayah hukum beberapa raad van justitie, gugatan dilakukan di hadapan hakim di ibu kota di mana terletak benda tetap itu, dan jika tidak ada ibu kota, di hadapan Majelis Hakim yang di dalam wilayah hukumnya terletak salah satu benda tetap itu, atas piliban penggugat. (Rv. 498.)

(10)Dalam perkara-perkara campuran, kecuali dalam perkara warisan yang diatur dalam pasal ini, di hadapan hakim yang di dalam wilayah hukumnya terletak benda tetap itu atau di tempat tinggal tergugat, atas pilihan penggugat. (Rv. 102.)

(11)Dalam perkara persekutuan-persekutuan atau perserikatan dagang, selama masih berdiri di tempat kedudukannya, dan sesudah dibubarkan, baik di hadapan hakim yang sama itu maupun di tempat tinggal salah seorang anggota panitia pembubarnya. (KUHPerd. 1618 dst., 1653 dst.; KUHD 15 dst., 32; Rv. 6-50.)

(12)Dalam perkara warisan: (KUHPerd. 830 dst., 874 dst.; Rv. 7.)

10. karena adanya saling menuntut di antara para waris, termasuk tentang pembagian harta benda karena pembatalan pembagian harta benda; (KUHPerd. 1066 dst., 1112, 1124; Rv. 689.)

20. karena adanya tuntutan para penagih yang meninggal sebelum diadakan pembagian harta benda; (KUHPerd. 1100 dst., 1107; Rv. 7.)

30. karena adanya tuntutan yang berhubungan dengan pelaksanaan penetapan hakim tentang kematian sampai putusan akhir; (KUHPerd. 24, 957 dst., 1005 dst.; Rv. 106.)diajukan di hadapan hakim yang di dalam wilayah hukumnya warisan jatuh terbuka. (KUHPerd. 23.)

(13)(s.d.u. dg. S. 1906-348.) Dalam perkara-perkara tentang kepailitan atau keadaan tidak mampu membayar di hadapan raad van justitie yang telah menyatakan tergugat dalam keadaan pailit atau dalam keadaan tidak mampu membayar dan yang putusannya mempunyai akibat-akibat hukum, jika kepailitan dinyatakan oleh H.G.H., di hadapan raad van justitie yang salah satu anggotanya diangkat sebagai komisaris. (F. I dst., 79 dst.; Rv. 6-61.)

(14)Dalam perkara penanggungan, di hadapan hakim yang memeriksa perkara yang asli yang masih berjalan. (Rv. 70 dst., 76.)

(15)Dalam perkara pertanggungjawaban (rekening) bagi orang-orang yang karena hukum diangkat sebagai penanggung jawab, di hadapan hakim yang mengangkatnya dan bagi wali atau pengampu di hadapan raad van justitie yang menunjuknya sebagai wali atau pengampu, atau dalam dua hal itu di hadapan raad van justitie di tempat tergugat, atau tempat pilihan penggugat. (KUHPerd. 409 dst., 452, 463, 472, 983; Rv. 674 dst.)

(16)Jika ada tempat tinggal pilihan, di hadapan hakim di tempat tinggal pilihan itu atau di hadapan hakim di tempat tinggal nyata tergugat, atas pilihan penggugat. (KUHPerd. 24 dst.)

(17)Dalam perkara mengenai biaya dan upah pengacara atau juru sita, di hadapan pengadilan dimana biaya-biaya itu dikeluarkan. (KUHPerd. 1970, 1974; Rv. 59, 607 dst., 610.)

(18)(s.d.t. dg. S. 1908-522.) Dalam hal Pemerintah Indonesia mewakili Negara bertindak sebagai penggugat atau tergugat, maka Jakarta dianggap sebagai tempat tinggalnya. XRv. 6-21.)


Pasal 100.

(s.d.u. dg. S. 1915-299, 642.) Seorang asing bukan penduduk, bahkan tidak berdiam di Indonesia, dapat digugat di hadapan hakim Indonesia untuk Perikatan-perikatan yang dilakukan di Indonesia atau di mana saja dengan warga negara Indonesia. (ISR. 136; AB. 3; Rv. 99, 761.)


Pasal 101.

Didalam tuntutan-tuntutan kebendaan atau dalam tuntutan-tuntutan yang bersifat campuran, maka dalam gugatan harus dijelaskan di mana letak benda-benda tetap itu, begitu pula nama serta sifatnya. (Rv. 92, 99, 102, 506-30, 517-20.)


Pasal 102.

Tuntutan perorangan adalah suatu tuntutan yang obyeknya adalah mengenai pelaksanaan suatu perikatan perorangan yang timbul karena suatu persetujuan atau karena undang-undang. (KUHPerd. 1233 dst.)

Tuntutan kebendaan adalah suatu tuntutan mengenai hak milik suatu benda tertentu atau suatu hak kebendaan lain. (KUHPerd. 528, 574, 711, 720, 737, 740, 756, 818, 1725, 1977; KUHD 230 dst.)

Tuntutan campuran adalah tuntutan mengenai perorangan dan sekaligus mengenai kebendaan, yaitu:

- tuntutan untuk mendapatkan warisan; (KUHPerd. 834.)

- tuntutan untuk pembagian harta benda; (KUHPerd. 1066 dst.)

- tuntutan pemisahan harta bersama; (KUHPerd. 128, 573, 1652.)

- tuntutan untuk memberi batas antara dua bidang tanah yang berdampingan. (RO. 124 dst., 159; KUHPerd. 624, 630a dst., 643.)


Pasal 103.

Tuntutan mengenai hak menguasai (bezit) dan mengenai hak milik (petitoir) tidak dapat dilakukan bersama. (KUHPerd. 550, 557, 562 dst., 565, 574; Rv. 55-90, 104 dst., 244-30.)


Pasal 104.

Barangsiapa telah mengajukan tuntutan mengenai hak milik atas suatu benda tidak dapat diterima dalam tuntutan mengenai hak menguasai (bezit). (KUHPerd. 565; Rv. 103, 105.)


Pasal 105.

Seorang tergugat dalam perkara mengenai hak menguasai (bezit) tidak boleh mengadakan tuntutan mengenai hak milik atas benda yang bersangkutan sewm gugatan mengenai hak menguasai (bezit) belum selesai.

Jika ia dalam hal terakhir diputus kalah, maka ia tidak dapat diterima dalam gugatannya tentang hak milik sebelum memenuhi seluruhnya isi keputusan terhadapnya, kecuali bila pelaksanaannya tidak ia jalankan atau terhambat oleh utang pihak yang menang; dalam hal itu maka hakim yang memeriksa gugatan mengenai hak milik atas benda yang bersangkutan dapat menentukan jangka waktu yang harus dilampaui sebelum gugatan itu dapat dilakukan. (KUHPerd. 561, 1738-20; Rv. 53, 103 dst., 244-30.)


Pasal 106.

(s.d. u. dg. S. 1908-522.) Penggugat diwajibkan pada waktu menalankan panggilan gugatan menunjuk seorang pengacara, dengan ancaman gugatannya akan batal. (Rv. 8, 92, 94, 319, 339, 349, 411-41.)

Tempat tinggal tersebut dalam pasal 8 No. 10, dianggap dipilih di tempat tinggal pengacara tersebut, kecuali jika penggugat telah menyatakan memilih tempat tinggal pilihan lain. (KUHPerd. 24; Rv. 107, 280, 800.) Semua akta dalam acara perkara itu sampai dengan putusan akmr diberitahukan kepada alamat itu dan pengacara itu wajib menandatangani naskah-naskah serta surat-surat yang disebut dalam bab ini dan berikutnya. (KUHPerd. 24; Rv. 68, 160, 199 dst., 206, 211, 217, 221, 230, 250, 256, 267, 272, 280 dst.)

Pada surat panggilan gugatan dilampirkan turunan surat-surat yang menjadi dasar gugatan yang bersangkutan. Bila turunan itu, yang mana harus diberikan oleh penggugat selama perkara masih berjalan, tidak ada, maka untuk hal itu tidak boleh dipungut biaya, kecuali untuk surat-surat yang diperlukan selama pembelaan si tergugat atau untuk yang ditimbulkannya, atau untuk perkaraperkara yang harus diselidiki secara tertulis sebagaimana diperintahkan oleh hakim. (KUHPerd. 1886, 1888, 1934, 1974; Rv. 110, 124, 138 dst., 141 dst., 144, 248-41, 256 dst.)