Si Djamin dan Si Djohan/Bagian 7

BAGIAN KE VII.

PENOETOEP.

Pada hari itoe djoega majat si Djamin diantarkan ke pekoeboeran. Hatta maka matahari, jang memanaskan boemi itoe, roejoeplah. Oedara jang hangat itoe beroebah mendjadi sedjoek serta dengan segarnja. Pada ketika itoe berdirilah lima orang dihadapan pintoe gerbang pekoeboeran di Mangga Doewa menantikan keréta mati, jang membawa majat si Djamin. Tijada berapa lama, tampaklah oleh meréka djenazah itoe datang. Dengan segera pintoe gerbang diboekakan dan keréta-mati itoepoen berdjalanlah masoek dengan perlahan-lahan diiringkan seboewah sado, jang ditoempangi oléh njonja Fi dengan si Djohan.

Tempat pekoeboeran itoe lengang sekali. Orangpoen tijada jang kelihatan, ketjoewali jang bekerdja disitoe. Boeroeng-boeroeng, jang hinggap di pohon-pohon beringin dan djawi-djawi, jang melindoengi pekoeboeran itoe, tijada kedengaran soewaranja. Matahari, radja sijang, menjemboenjikan moekanja dibalik awan jang hitam, jang menoetoepi langit pada sebelah barat itoe; anginpoen redoep. Soenji dan lengang di tempat pekoeboeran itoe seolah-olah menoendjoekkan, bahwa matahari, angin dan boeroeng-boeroeng sekalijan sama berdoekatjita karena kematian si Djamin, boedak jang toeloes dan ichlas itoe.

Toeloes dan ichlas! Ja, sesoenggoehnja ija toeloes dan ichlas! Selama hidoepnja ija setija kepada perkataan iboeaja, jang mengoekirkan kesoetjian didalam kalboenja. Matinjapoen tijada lain sebabnja ijalah karena menoeroet ketoeloesan hatinja itoe djoega.

Dengan hati-hati orang penggali koeboer mengangkat peti majat itoe dari atas keréta, laloe diletakkannja dengan perlahan-lahan kedalam koeboer itoe. Kemoedijan meréka itoe menimboen koeboer itoe dengan tanah. Setelah peti Itoe tijada tampak lagi, si Djohan meraoeng dengan sekoewat-koewatnja. Si Djamin, jang sebagai iboe-bapaknja itoe, soedahlah berdjalan meninggalkan doeniji jang fana menoeroet negeri jang baka.

Njonja F. memandang keatas, sambil menjapoekan sapoe-tangannja kepada air matanja jang berlinang-linang. Seketika itoe djoega bertijoeplah angin dengan sepoewi-poewi lemah-lemboetnja. Tjabang dan ranting-ranting pohon-pohon beringin dan djawi-djawi, jang kena sinar matahari sandja itoe, bergeraklah gemelai-gemoelai roepanja. Pemandanngan jang demikijan itoe adalah merawankan hati jang melihat.

„Hidoepmoe soedah poetoes. Di doenija engkau menanggoengkan 'azab dan sengsara. Tetapi kematianmoe menjeberangkan engkau ke poelau jang permai. Disanalah engkau beroléh penghidoepan jang senang, jang kekal selama-lamanja," kata njonja F. waktoe meninggalkan koeboer itoe.

Sedjak dari ketika itoe, sesoedah si Djamin meninggalkan doenija, si Djohan tinggallah di Pasar Senén di roemah Kong Soei; Fi tijada sampal hati menjoeroeh dija balik ke roemah.

Si Inempoen tijada ada lagi di roemah. Kawan-kawan sekampoengnja di Taman Sari tijada mengetahoei, entah kemana perginja. Beberapa hari kemoedijan Kong Soei membatja dalam soerat kabar „Pemberita Betawi," bahwa seorang pengail mendapat majat seorang perempoewan didalam sengai, ditepi djalan ke Antjol. Setelah diperiksa dokter, ketahoeanlah, bahwa perempoewan itoe. mati lemas adanja. Akan tetapi seorangpoen tijada mengetahoei dengan pesti, majat sijapa itoe, oléh karena roepanja tijada dapat dikenal lagi.

Sjahdan si Djohanpoen amatlah disajangi oléh njonja Fi dan soewaminja. Makin lama makin diketahoei oléh meréka itoe, bahwa ija seorang anak jang baik lakoe. Sekalijan tertibnja berkenan kepada meréka itoe kedoewa laki-isteri. Berkat pakaian jang bersih, makanan jang tjoekoep dan pemeliharaan jang baik si Djohan telah beroebah roepanja. Parasnja jang manis itoe bertambah élok, karena matanja, jang dahoeloenja tjekoeng itoe, soedah penoeh dan moekanja, jang poetjat sebab koerang makan itoe, soedah berseri serta dengan djernihnja. Péndéknja si Djohan, jang hidoep di Taman Sari dalam kesengsaraan itoe, soedah djaoeh sekali beroebah romannja, selama ija tinggal di roemah Kong Soei itoe, oléh karena sekarang ija telah terpelihara sebagai anak orang baik-baik adanja.

Arkijan setelah tiga boelan lamanja si Bèrtes didalam toetoepan, ija dibebaskan, karena soedah njata tijada bersalah dalam perkelahian malam, jang terdjadi di Pasar Senén itoe. Selama dalam toetoepan ija memikirkan kesesatannja jang soedah-soedah dan soempahnjapoen dapat ditetapinja, karena dalam tiga boelan ija tijada dapat meminoem minoeman keras atau mengisap madat.

Pada soewatoe hari pagi hari roemah di Prinseslaan, jang telah tiga boelan tertoetoep itoe, terboekalah djendélanja. Didalam kedengaran soewara orang menangis. Si Bèrtes, jang soedah mendengar kematian anaknja jang soeloeng itoe, doedoek meratap dan meraoeng. Dengan amat menjesal ija menampar-nampar dadanja, sambil berkata: Ja Allah, ja Toehankoe! Ampoenilah dosakoe jang besar itoe. Djamin Mina . . . . soedah mati, karena salahkoe djoewa."

Sesoedah si Bertes dijam daripada menangis itoe, pergilah ija melihat koeboer anaknja.

Koeboer si Djamin itoe disebelah kanan koeboer iboenja. Doenija, jang sengsara itoe, telah ditinggalkannja dan badan, jang berasal tanah itoe, terletak disana menantikan hari jang penghabisan Maka disitoelah djiwa dan badan bersama-sama masoek kedalam sorga jang permai serta dengan ni'matnja itoe. Disana segala air mata orang, jang menanggoeng sengsara didalam doenija, keringlah dan tijadalah lagi hoedjan dan panas atau perbédaan sijang dan malam, karena kemoeliaan Allah jang akbar itoe menerangi negeri jang baroe dan sekalijan oemmatnjapoen bersoeka-soekalah memoedji-moedji namanja.

„Ja Allah jang Rahim, ampoenilah segala dosakoe. Djanganlah kiranja dibalas kedjahatankoe itoe; loepakanlah sekalijannja!". berkata Bèrtes, sedang ija berdiri diantara doewa koeboer bini dan anaknja itoe.

„Ah, dosakoe ini amat besarnja, tijada dapat diampoeni lagi," berkata ija didalam hatinja dengan doekatjita, seraja ija memandang ke langit. Pada waktoe itoe seolah-olah terdengarlah oléhnja soewara berkata:

„Meskipoen bagaimana sekalipoen besar dosa menoesija, apabila ija tobat, dapat djoega koeampoeni."

Mendengar soewara itoe maka hilanglah doekatjita itoe. Perkataan itoe sebagai minjak penawar menjemboehkan penjakit, jang soedah bertahoen tahoen dihidapkannja itoe. Dengan merasa dirinja senang dan beroentoeng, kembalilah ija ke roemah dan pada hari. itoe djoega bertemoelah ija dengan si Djohan. Maka air matanjapoen bertjoetjoeranlah, ketika ija mengoetjap terima kasih kepada Kong Soei laki-isteri, jang pengasih dan penjajang itoe.

Lima tahoen kemoedijan daripada itoe tammatlah peladjaran si Djohan di sekolah rendah, laloe ija meneroeskan penoentoetannja poela dalam sekolah toekang di kampoeng Djawa*). Akan belandja ta' oesah disoesahkannja, karena Kong Soei selamanja sedija membantoe dija bila perloenja. Bèrtespoen telah mendapat pekerdjaan jang tetap, dengan pertolongan Kong Soei djoega.

Semendjak dari kelas rendah si Djohan beladjar dengan bersoenggoeh-soenggoeh, maka ija disajangi oléh goeroenja dan barang kelakoeannjapoen disoekat oléh teman-temannja. Sijang dan malam tijadalah ija meloepakan boedi doewa orang laki-isteri jang baik boedi itoe, dan selamanja ija mengharap akan dapat djoega membalas pertolongan dan kebadjikan mereka itoe adanja.

TAMMAT.

——————


——————