Sorga Ka Toedjoe/Bagian Kelima

Sorga Ka Toedjoe oleh L.
Bagian Kelima: Kasimin

BAGIAN KELIMA

Kasimin

KASIMIN sedang hendak poelang kepondoknja, dari kebon, ketika ia berpapasan dengan Doel, pegawainja toean tanah Hasan.

Sesoeatoe pendoedoek di itoe desa ada mengetahoei betoel jang Hasan lagi sedang membeli semoea tanah-tanah jang terletak dipinggir soengai, karena disitoe ia, hendak berdirikan satoe fabriek kajoe jang besar, dan akan menggampangkan pengangkoetan, djadi perloe dengan itoe tanah-tanah jang berada dipinggir soengai. Soedah beberapa kali Kasimin diboedjoek akan djoeal kebonnja pada toean tanah, tapi selaloe menolak, meskipoen djoega harga jang ditawarkan padanja ada sangat tinggi. Boedjoekan, antjaman atau oewang soedah tidak bisa mempengaroehi Kasimin akan djoeal iapoenja kebon, karena boeat Kasimin kebon itoe ada meroepakan sebidang tanah jang penoeh dengan kenang-kenangan.

Soedah beberapa kali Doel tjoba boedjoek Kasimin akan toeroet keinginannja toean tanah Hasan, tapi Kasimin selaloe menolak. Boekan satoe kali sadja Doel telah dapat dampratan dari madjikannja boeat oeroesan kebonnja Kasimin itoe dan sekarang Doel takan berdaja, boeat penghabisan kali, sebeloemnja ia goenakan lain akal, boeat bikin Kasimin soeka toeroet kemaoeannja iapoenja madjikan.

Ketika melihat pada Doel lantas sadja Kasimin hendak balik kembali kekebonnja, tapi telah ditjegah oleh Doel jang berkata :

„Nanti doeloe bang, Min, akoe maoe ada bitjara sedikit sama kau”.

„Tentoe lagi-lagi oeroesan kebonkoe, apatah boekan begitoe ?” Kasimin menanja.

„Betoel, Min. Kau tahoe meskipoen djoega akoe ada bekerdja sama toean tanah Hasan, tapi akoe ada mendjadi djoega kaoe poenja sobat, karena akoe kagoemkan kaoe poenja kemoeliaan hati soeka menolong pada orang jang sedang sakit atau dapat kesoesahan. Lebih baik kaoe toeroet kemaoeannja toean tanah dan djoeal ini kebon padanja,soepaja djangan sampai terbit kerewelan dan kaoe dapat soesah. Kaoe toch soedah dapat tawaran bagoes sekali dari dia ?”

„Kendati bagaimana djoega akoe tidak nanti djoeal ini kebon, berkata Kasimin dengan tegas. „Tidak perloe kaoe banjak bitjara lagi dalam ini oeroesan, Doel.”

„Djangan kau membantah Min, sebab itoe tjoema bisa bikin kaoe djadi dapat soesah sadja,” Doel mendjawab.

„Soesah ? soesah apa ? kalau akoe tidak maoe djoeal kebonkoe, tidak seorang djoega nanti bisa paksa akoe mendjoeal itoe”.

Paksa tentoe tidak bisa, tapi toean tanah nanti bisa tjari daja lain akan bisa poenjakan djoega ini kebon, jang toch boekan ada djadi kepoenja'anmoe”.

Kasimin toendokkan kepalanja sesa’at, kemoedian menengok poela pada Doel dan dengan soeara goesar laloe berkata:

„Berkali-kali akoe soedah bilang meskipoen dengan harga bagaimana mahal djoega tidak nanti akoe djoeal ini kebon. Tidak perloe banjak omong lagi, Doel”.

„Pikirlah biar betoel, Min, djangan sampai menjesal dibelakang kali. Lain hari akoe nanti datang lagi pada kaoe”.

Sesoedah berkata demikian, Doel laloe berdjalan pergi, tinggalkan Kasimin sendirian diitoe tempat.

Kasimin awaskan Doel berlaloe dengan bingoeng. Roepa-roepa pikiran masoek kedalam otaknja. Apatah betoel toean tanah nanti bisa paksa dia akan djoeal itoe kebon, jang mana meskipoen betoel boekan kepoenja’annja, tapi soedah didjandjikan oleh bapa Kasdam. ketika ia itoe hendak menarik napasnja jang pengabisan, bahwa ia, Kasimin, boleh berdiam teroes dan oesahakan itoe kebon sebegitoe lama ia maoe, asal sadja oeang sewa’annja kasimin bajar dengan betoel padatoean tanah? Dengan tjara bagaimana toean tanah nanti bisa Kasimin dari itoe kebon, itoelah Kasimin tidak bisa pikir, sebab oeang séwa tanah, Kasimin selaloe bajar dengan betoel dan beloem pernah menoenggak.

Dengan tindakan pelahan dan kepala penoeh dengan roepa-roepa pikiran, Kasimin teroeskan tindakannja akan poelang kepondoknja.

Betoel sadja ketika Kasimin hendak poelang kepondoknja, adalah ditempat pembrentian autobus di Senen, Batavia-Centrum, orang dapat lihat Rasminah toeroen dari satoe autobus jang baroe sampai dari Bogor.

Meskipoen baroe ini kali Rasminah pernah datang di Betawi sendirian, iapoenja kelakoean tidak oendjoekkan demikian. Dengan tidak takoet-takoet atau sangsi-sangsi, satoe tangannja menenteng koffer, Rasminah memanggil satoe deeleman dan naikkan koffernja keitoe kendaraan, kemoedian, sesoedah ia sendiri naik, laloe menjoeroeh koesirnja djalankan deelemannja ke Kwitang.

Di satoe roemah jang sederhana, deeleman diberhentikan dan Rasminah toeroen dari itoe kendara’an.

Beberapa menit kemoedian kita dapatkan Rasminah soedah ada dihadapannja toean dan njonja Moestapa, siapa samboet kedatangannja Rasminah dengan penoeh kegirangan. Mereka ingat betoel pada Hadidjah dan pertoeloengan apa jang Hadidjah soedah pernah berikan pada mereka, selagi Hadidjah masih tinggal sama ajahnja jang hartawan.

Ketika Rasminah soedah toetoerkan maksoed kedatangannja di Betawi, Moestapa lantas sadja berkata :

„Kebetoelan sekali kedatanganmoe ini, Rasminah, sebab dalam beberapa hari ini fabriek tenoen di Tanah-Abang lagi tjari perempoean-perempoean moeda jang radjin akan diberikan peladjaran boeat mendjadi toekang tenoen. Djika soedah bisa, ada harapan akan mendapat bajaran bagoes djoega, loemajan boeat hidoep dengan sederhana. Kalau kau maoe, besok akoe nanti antarkan kau kesana”.

Rasminah djadi girang dan berkata : „Soekoer sekali kalau toean soedi antarkan saja keitoe fabriek tenoen, sebab kalau pergi sendirian, saja tentoe akan merasa kikoek”.

„Sekarang baiklah kau pergi kekamarmoe doeloe dan mengaso, sebab kau tentoe merasa lelah sehabisnja perdjalanan dengan autobus tadi,” mendjawab Moestapa. „Bibimoe nanti oendjokkan dimana adanja kamar jang disediakan boeat kaoe”.

Rasminah mengoetjap terima kasih, kemoedian dengan diantar oleh istrinja Moestapa, lantas berlaloe dari situ akan pergi kekamar jang soedah disediakan boeat dia.