Tao Teh King diterjemahkan oleh Kwee Tek Hoay
Bab 26

XXVI

KABEDJIKANNJA BERSIKEP SOENGGOEH-SOENGGOEH.

  1. Berat ada poko dasarnja enteng, diam ada poko dasarnja gerakan.
  2. Maka saorang Radja Boediman dalem pakerdjaännja sahari-hari belon perna meninggalken sikep soenggoeh-soenggoeh dan katentreman
  3. Maski mempoenjai astana gilang-goemilang, ia aken diam disitoe dengen trentrem, tida merasa ketarik.
  4. Bagimanatah satoe radja jang mempoenjai banjak kreta perang bisa berlakoe satjara koerang pikir di tengah karadja'annja ?
  5. Dengen berlakoe bodo dan sia-sia ia kailangan kasetia'an mantri-mantrinja dan dengen kalakoean jang kaloet tida karoean ia kailangan tachtanja.

Disini Lao Tze, sabagi djoega Khong Tjoe, ada bandingken perbeda'annja antara radja boediman dan jang tida berboedi. Tapi Lao Tze poenja toedjoean boekan meloeloe boeat mengatoer kaberesan negri, kerna di Tiongkok koeno satoe radja boekan tjoemah pegang kakwasa'an politiek hanja teroetama memikoel kawadjiban sabagi satoe Nabi atawa Pendita Besar jang haroes pimpin rahajat pada kabeneran. Dan pada itoe djeman, kabesaran atawa kaloeasan dari satoe negri ada dioekoer dari banjaknja kreta-perang jang ia bisa madjoeken, kerna tiap-tiap golongan familie ada diwadjibken menjoembang satoe kreta perang boeat membela negri.

Kaliatannja apa jang diroendingken dalem ini fatsal tjoemah samatjem peladjaran moraal jang biasa, tapi kapan diselidiki lebih djaoe ternjata disini Lao Tze ada petjahken satoe pengataoean penting boeat orang memilih kadoedoekan jang bener dalem kahidoepan.

„Berat ada poko dasarnja enteng," sebab orang tida bisa bitjara dari enteng zonder inget pada apa jang berat. Berbareng dengen itoe, orang poen bisa pikir djoega, apa jang paling berat moesti berada di paling bawah, dan jang paling enteng selaloe berada di paling atas; dan memang begitoelah ada sifatnja natuur, lantaran mana dalem anggepan oemoem ini boemi dipandang berada di bawah, dan langit di atas. Tetapi sabaliknja, barang jang paling berat ada paling tetep doedoeknja, dan jang paling enteng — oepamanja oedara atawa angin — paling gampang bergerak dengen gesit. Maka itoe saorang Radja Boediman memegang tegoeh imbangan dari tabeat dan kalakoean soepaja orang-orang jang berada di bawah prentahnja bisa hidoep slamet.

„Diam ada poko dasarnja gerakan," sebab kita tida bisa pikir tentang gerakanzonder inget pada apa-apa jang diam, dari mana itoe gerakan telah pisahken dirinja. Dan dengen menimbang pada apa jang berat dan enteng, orang poen bisa persatoekan sang beratdengen sang diam, dan sang enteng dengen sang gesit atawa gampang bergerak. Maka saorang Boediman selaloe memelihara iapoenja pendiam dan tentrem salagi berlakoe girang dan giat. Ini ia lakoeken dengen kapandean boeat menjotjokken diri. (Ajat 1-2).

Kapan soedah bisa imbangin dengen tjotjok pada itoe ka'ada'an, ia tida bisa ketarik pada segala kamoelja'an doenia, hingga ia tida nanti lakoeken segala perboeatan sia-sia jang membikin hamba-hambanja jang setia pergi menjingkir dan tachtanja terdjoengkel. (Ajat 3-5).


Tao Teh King (page 127 crop)
Tao Teh King (page 127 crop)