Amerta: Berkala Arkeologi 2  (1985) 
Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Proyek Penelitian Purbakala Jakarta
Sebuah Candi Timbul Kembali

SEBUAH CANDI TIMBUL KEMBALI

V.R. van Rommondt


Pada bulan Nopember 1936 Dinas Purbakala mendapat berita, bahwa di daerah Yogya, sedikit sebelah selatan Desa Gebang, ditemukan sebuah arca Gajah pada sebuah tempat, dari mana penduduk biasa mengambil batu-batu untuk bangunan rumahnya. Tidak seorang pun dapat menduga, bahwa ini adalah langkah pertama yang akan mewujudkan kembali sebuah candi kecil dari zaman awal Jawa Tengah. Candi kecil itu sendiri mungkin tidak begitu penting, tetapi caranya ia ditimbulkan kembali dan keistimewaan-keistimewaan yang ada padanya, menimbulkan perhatian kita untuk mengikuti sejarah pembangunannya kembali.

Sebagai biasa setelah ada laporan, maka diadakan penyelidikan oleh Dinas Purbakala bagian Bangunan, yang pada waktu itu kantor besarnya ada di Prambanan, tidak jauh dari situ. Patung itu berupa Ganeça yang sangat indah. Yang aneh ialah bagian lapiknya, yang terang menyatakan, bahwa patung itu tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari sebuah bangunan. Inilah yang menyebabkan diperluaskan penyelidikan pada tempat temuannya. Penyelidikan demikian itu biasanya terdiri atas pemeriksaan tempat itu untuk mengetahui batu-batu macam apakah yang ada di atas tanah di situ itu. Dari pemeriksaan ini seringkali dapatlah sudah ditentukan apakah ada yang diharapkan. Kadang-kadang di antara batu-batu itu ada pecahan-pecahan patung yang indah buatannya atau bagian-bagian suatu bangunan dengan bingkai-bingkai yang dihiasi. Di Gebang ini tidaklah demikian halnya. Oleh penduduk telah banyak sekali batu-batu itu diambil, hingga tinggal sedikit saja bangunan kuno yang telah hilang itu. Tetapi patung Ganeça itu memberikan kepastian niat untuk menggali alur-alur percobaan, guna menyelidiki apakah ada sesuatu yang terpendam di dalam tanah. Penyelidikan menghasilkan cukup batu-batu, yang ternyata berasal dari sebuah candi, sehingga dapatlah dilanjutkan penyelidikan itu. Lambat laun timbullah batu-batu candi yang masih saling berhubungan di tengah-tengah batu yang masih saling berhubungan di tengah-tengah batu yang tak beraturan letaknya. Kira-kira dua meter di bawah tanah terdapatlah permukaan tanah yang semula. Batu-batu yang berserak-serak terlepas itu dikumpulkan di suatu tempat tidak jauh dari situ, dipilih dan sedapat mungkin dihubung-hubungkan. Kaki bangunan itu sebagian masih utuh, dan mudah dilengkapi dengan batu-batu lain, yang dahulu merupakan bahagian darinya. Dengan pengumpulan batu-batu yang lain dapatlah bagian atas bangunan itu hampir seluruhnya disusun kembali. Tetapi kemudian batu-batu itu boleh dikata habis. Dari bagian tengah candi itu hampir tidak ada yang tinggal. Hal itu menimbulkan banyak kesukaran, dan rasa-rasanya bangunan itu, yang bentuknya dapat direncanakan kembali di atas kertas dengan hampir pasti, tidak dapat dibangun kembali. Salah satu prinsip Dinas Purbakala ialah, bahwa pembinaan kembali hanyalah dapat dilakukan apabila dapat dipertanggungjawabkan dengan kepastian yang mutlak, bahwa tiap-tiap batu tersusun kembali pada tempat aslinya.

Bagaimanakah mendapat kepastian itu? Karena pada bangunan yang dibuat dari batu alam orang tidak bekerja dengan batu-batu yang tetap ukurannya, tetapi dengan batu-batu yang dipotong dari bahan yang ada, maka tidak ada potongan yang mempunyai bentuk yang benar-benar sama dengan yang lain. Lain daripada itu, perhiasan-perhiasan yang dipahatkan pada batunya itu melintasi sambungan-sambungan di antara potongan-potongan batu sehingga jelas memberi petunjuk batu mana yang harus ada di sampingnya, di atasnya, dan di bawahnya. Karena itu maka bagian-bagian yang rata jauh lebih sukar dikumpulkan kembali. Tambahan lagi sering terjadi bahwa batu-batu itu dahulu dihubungkan yang satu dengan yang lain dengan sesuatu cara, sedangkan cara itu untuk tiap-tiap hal selalu berlain-lainan. Demikianlah maka banyak sekali jalan yang dapat dipakai para ahli untuk mengetahui batu-batu yang mana yang cocok dengan batu yang lain.

Dengan jalan demikian itu maka ternyata bahwa dari candi yang kita bicarakan, yang disebut Candi Gebang menurut nama desa yang terletak di dekatnya, dapat ditemukan kembali bentuk bagian bawah dan atasnya. Hanya hubungan di antara kedua bagian itu menimbulkan kesukaran. Setelah terus menerus memasang dan mengukur-ukur serta selalu mencari-cari lagi, akhirnya terdapatlah hubungan pada satu dua tempat. Kini tak ada lagi keberatan untuk membina kembali candi itu. Hanya untuk bagian tengah harus banyak sekali diadakan tambahan batu-batu yang baru. Batu-batu ini dapat diambil dari kali yang mengalir di sebelah timur di dekat candi itu. Juga dahulu orang mendapatkan bahan-bahannya dari batu kali yang dibawa oleh banjir dari gunung-gunung ke hilir. Begitulah bangunan kecil itu tetap disusun dengan batu yang semacam. Sayang bentuk pintu masuknya tidak dapat ditemukan. Supaya jangan sampai karena kekurangan itu kita membatalkan pekerjaan pembinaan kembali, yang bagi tiap orang lebih memuaskan daripada beberapa bagian yang kita jajar-jajarkan, maka kita cari sesuatu bentuk untuk pintu itu yang jelas menunjukkan bahwa bagian ini bukan asli.

Masih ada lagi kesukaran yang harus dipecahkan sebelum kita dapat mulai dengan pembinaan kembali. Pada kakinya terang terlihat beberapa garis yang menunjukkan tempat sudut-sudut tubuh candinya. Tetapi tubuh itu dapat dipasang di dalam sudut-sudut tersebut menurut empat cara. Bagaimanapun orang memutarnya, dengan pintu masuk ke arah tiap-tiap mata angin, selalu sudut-sudut itu sesuai dengan petunjuk-petunjuk pada permukaan kaki itu. Dalam hal ini haruslah kita dengan pikiran luas memecahkan masalahnya. Untunglah dalam hal ini ada sesuatu yang dapat menolong. Pintu candi pada umumnya diarahkan ke timur atau ke barat. Satu dari dua kemungkinan ini hendaklah dipilih. Lagi pula ada tambahan lain yang dapat menjadi petunjuk. Seperti telah dibicarakan, pada patung Ganeça yang merupakan pendorong bagi semua pekerjaan ini tampak bahwa ia merupakan bagian dari sebuah bangunan dan barangkali dahulu berdiri di dalam sebuah relung. Ternyatalah sebagai suatu keistimewaan bahwa dahulu di bawah patung itu terdapat sebuah lapik (yoni) dengan cerat. Yoni itu telah ditemukan kembali. Semua yoni di Jawa ditempatkan demikian, hingga pancurannya diarahkan ke utara. Tambahan pula patung Ganeça selalu ditempatkan di belakang patung induk, jadi pada sisi yang berlawanan dengan pintu masuk. Dengan mengarahkan cerat yoni di bawah Ganeça itu ke utara, ternyatalah bahwa pintu masuk ada di sebelah timur. Setelah soal ini dipecahkan maka dapatlah dimulai pembinaan kembali. Hasilnya tampak pada gambar yang disertakan di sini.

Tidak perlulah rasanya menguraikan bentuk candi itu dengan panjang lebar, sebab sudah terlihat dengan jelas pada gambar yang disertakan di sini. Hanya masih perlu di sini kita menunjukkan beberapa keistimewaan. Pertama ternyata bahwa tidak ada terdapat tangga yang memungkinkan orang masuk dalam bilik candi dengan mudah. Hal semacam itu tidak terdapat pada candi mana pun juga. Barangkali orang mempergunakan tangga kayu atau bambu, tetapi barangkali juga tidak memandang perlu untuk memasukinya. Dalam bilik itu berdiri yoni, barangkali dengan sebuah lingga yang cocok di dalamnya. Bukankah lambang Çiwa itu merupakan bagian yang terpenting dari bangunan sucinya? Kita tidak tahu. Tetapi dengan demikian kita tertumbuk kepada keistimewaan yang kedua dari candi itu, ialah patung Ganeça, yang sudah sering disebut itu, yang duduk di atas sebuah yoni tersendiri di belakang dinding candi. Dengan segera terdapat kesan bahwa patung dan yoni itu terlalu kecil bagi bidang penempatannya. Dan tentu saja yoni itu sendiri yang bagi para ahli purbakala merupakan sebuah teka-teki, sebab sebuah yoni menunjukkan bahwa patung yang ada di atasnya biasanya di basuh dengan air suci. Kemudian air yang mengalir melalui pancuran yoni itu ditampung dan bagikan kepada orang-orang pemuja. Maka dari itu pada tiap candi agama Siwa arca induknya berdiri di atas lapik yang bercerat. Tetapi di Jawa belum pernah ditemukan patung-patung perwara yang menunjukkan cara pemujaan semacam itu. Pun tidak dalam candi-candi yang besar, yang patung-patung perwaranya mendapat bilik tersendiri. Tetapi mengapakah demikian halnya dengan patung Ganeça itu? Sebuah dugaan mendekatkan kita kepada arti dewa yang berbentuk gajah itu. Bukankah Ganeça itu dewa yang mengatasi segala rintangan? Dan seperti kita lihat di Jimbe dan Karangkates di Jawa Timur ada kalanya Ganeça itu ditaruh di dekat tempat penyeberangan sebuah sungai, ialah Kali Blotang, yang mengalir di sebelah Timurnya kedalam sebuah jurang yang dalam dan curam tebing-tebingnya. Barangkali disini dahulu terbentang sebuah jalan yang melalui berbagai bangunan suci. Tidakkah mungkin bahwa di tempat itu mula-mula terdapat patung Ganeça atau punden-Ganeça yang kemudian di angkat menjadi sebuah punden-lingga? Bagi mereka yang menjadi pemuja Ganeça maka dengan cara yang tidak biasa itu masih tetap ada kesempatan untuk melakukan pemujaannya. Hal itu masih hanya merupakan dugaan yang sangat lemah dasarnya. Sebab di mana-mana tidak ada kita kenal keadaan semacam itu, meskipun kita tidak ada kita akan heran apabila Candi Kalasan telah mengalami perubahan semacam itu juga. Barangkali punden-Tara yang mula-mula itu lalu diperluas menjadi punden-Buda pada waktu perombakan yang pertama kali, dan arca Tara itu mendapat tempat di atas pintu-pintu masuk bilik-bilik samping tempat gambarnya masih terdapat. Tetapi ini juga dugaan dengan tiada dasar yang lain kecuali anggapan bahwa punden yang besar itu tentulah didirikan dan diperindah untuk dewa yang terpenting, dan angan-angan para ahli purbakala dan ahli sejarah yang ingin menggambarkan masa yang silam hidup kembali.

Juga puncaknya ternyata mempunyai masalahnya sendiri, sesuatu yang tidak terdapat pada candi-candi lain. Pada umumnya tempat-tempat suci agama Buda diberi bermahkota yang berbentuk stupa, sedangkan candi-candi yang lain mempergunakan bentuk ratna. Demikianlah Candi Gebang sebagai puncaknya memperlihatkan lingga yang ditempatkan di atas bantalan seroja. Tidak lingga seluruhnya tetapi hanya bagian atasnya saja yang berbentuk silinder yang dapat nyata dengan jelas pada gambar yang terlukis padanya. Maksud lingga ini tidak terang benar. Tidak sebuah candi lain pun yang dapat memberikan ketketerangan lebih lanjut tentang hal itu, karena tidak ada terdapat cara memberi mahkota semacam itu di mana pun. Adakah dengan itu candi seluruhnya dijadikan lambang Çiwa? Perlukan membuat lingga itu sekali lagi di luar untuk menyatakan, bahwa Ganeça itu pada lahirnya pula hanya berhubungan dengan penempatannya yang tidak biasa dalam lapangan percandian yang dikelilingi oleh pagar tembok itu? Kita akan kembali kepada hal ini dibelakang.

Masih ada lagi pelajaran yang kita peroleh dari bangunan kecil yang kita timbulkan dari dalam tanah itu. Di dalam atapnya terdapat sebuah ruangan kecil yang berbentuk rongga diatas bilik-candi yang sebenarnya, seperti juga terdapat pada candi-candi lain. Biasanya ruangan itu dahulu disebut ruang penghematan, ialah sebuah ruang yang dapat diterangkan dari konstruksi bangunan untuk menghemat bahan dan memperingan tekanan atap candi. Tetapi untuk keperluan itu apa yang disebut ruang penghematan sebagaimana dahulu dikenal, agaknya terlalu kecil. Lain daripada itu telah menarik perhatian bahwa dasar dari ruangan itu, dibentuk seperti kotak dengan petak-petak kecil, biasanya sembilan buah (misalnya pada Candi Merak di daerah Klaten). Dalam beberapa hal petak yang di tengah dan berbentuk lingkaran itu tembus menjadi serupa pipa yang merupakan bagian dari sebuah saluran yang berjalan sampai ke dalam batu penutup sungkup bilik candi. pada Candi Gebang tidak terdapat peti seperti kita lukiskan itu di dalam rongganya (hanya beberapa buah peti kecil semacam itu yang lepas); yang ada ialah
Arca Ganęca dari Candi Gebang

pipa yang tegak lurus dan menembus 6 buah lapisan batu sampai kepada batu penutup sungkup yang diukiri dengan ceplok bunga.

Candi Gebang itu memperkuat keyakinan kita bahwa ruang atas itu bukan ruang penghematan, tetapi sebuah ruang yang mempunyai peranan tertentu di dalam sistim keagamaan magis sebuah candi. Kita tidak akan heran, apabila di sanalah dianggap tempat turunnya dewa untuk kemudian bersatu di dalam patung dengan tenaga yang keluar dari abu jenazah yang tersimpan dalam perigi candi, seperti yang sekarang masih terdapat di Bali. Pada beberapa buah candi, perigi itu dihubungkan dengan bilik-candi dengan sebuah pipa atau saluran kecil Candi Merak, Candi Giwa di Prambanan dan lain-lain), sedangkan kadang-kadang ruang atas itu berhubungan dengan udara di luar dengan saluran-saluran yang mendatar (candi perwara dari Plaosan-Lor).

Tetapi tidak hanya bangunan itu sendiri menambah hidupnya banyak masalah kepurbakalaan, juga lapangan pecandian membawa hal-hal yang tak terduga-duga dan peneranganpenerangan. Sebab bagaimana pun akan puas rasa hati apabila dapat membangun kembali sebuah bangunan, bagi seorang ahli purbakala hal itu jauh dari cukup. Ia hendak mengetahui juga bagaimana dipergunakannya dan apa fungsinya di dalam masyarakat. Untuk itu diselidikilah tempat di sekitarnya, lapangan tempat candi itu didirikan, yang tentu telah disucikan dengan sesuatu cara. Penyelidikan lapangan semacam itu harus dikerjakan dengan teliti sekali, dan sebuah pekerjaan kepurbakalaan tidak lengkap apabila tidak diberikan perhatian sepenuhnya pada bagian penyelidikan itu. Dapat dikatakan bahwa segi inilah yang terutama, jauh lebih penting bagi ahli purbakala daripada pembangunan kembali sebuah bangunan yang telah runtuh. Bagaimana penyelidikan lapangan itu dikerjakan dalam masalah ini lebih-lebih bagi seorang ahli prasejarah, merupakan inti dari pekerjaannya di lapangan.

Maka ketika dalam penggalian lapangan itu tercapai permukaan tanah yang asli dan orang mendekati apa yang dinamakan tanah tak teraduk, ialah tanah yang tidak diusik-usik lagi sejak ia tertimbun, pekerjaan itu dilanjutkan dengan lebih cermat dan berhati-hati. Apa yang ditemukan pada waktu menyingkirkan tanah dibiarkan terletak di tempatnya, supaya kemudian lebih mudah diperoleh pemandangan umum terhadap lapangan percandian itu. Orang tidak boleh lupa, bahwa dapat diduga apa yang ditemukan itu sudah ada di dalam tanah atau dengan sengaja telah dimasukkan pada waktu candi itu didirikan. Dengan jalan demikian maka batu-batu kali yang kelihatannya seolah-olah terserak tak beraturan ternyata tersusun dalam dua bujur sangkar yang sepusat dan merupakan sisa-sisa dari dua tembok keliling yang berdekatan. Lagipula di tengah sisi-sisi sebelah barat terletak batu-batu terpahat yang merupakan beberapa buah undakan. Dengan demikian maka dapatlah dipastikan bahwa di situlah dahulu pintu masuknya tepat di hadapan patung Ganeça. Di dalam sudut-sudut dasar tembok itu tersembullah sedikit di atas permukaan tanah patok-patok batu yang ujungnya bulat dan bagian bahwahnya segi-empat. Patok-patok itu disebut lingga-semu, karena tidak mempunyai bagian tengah yang bersegi delapan sebagaimana lingga yang sebenarnya. Dalam hal ini patok-patok itu memegang peranan yang di lain tempat dipegang oleh lingga betul-betul. Sebab ternyata bahwa tempat-tempat angker yang terpenting di dalam lapangan percandian itu ditetapkan dengan tindakan-tindakan yang khusus. Tempat-tempat itu ialah terutama pusat dan keempat sudutnya; sedangkan tengah-tengah sisi sering juga disertakan. Cara yang dipergunakan untuk pembatasan itu ada beberapa macam, menurut kepentingan "templum"-nya (daerah yang dipergunakan untuk pekerjaan-pekerjaan suci dan dipisahkan dari dunia profan). Pada Candi Gebang itu ternyata yang dipakai adalah lingga semu tadi. Tetapi titik pusatnya tidak dapat dicapai, karena di sanalah berdiri candinya sendiri. Hal itu kelihatannya lebih logis daripada yang ternyata di dalam praktek. Sebab pada banyak percandian tampaklah bahwa seluruh kelompok di dalam tembok keliling terdesak sedikit ke utara, dan dengan demikian maka dalam hal itu titik pusat lapangan di dalam tembok-tembok itu bebaslah. Maka pada tempat-tempat itu diberikan juga tanda seperti pada tempat-tempat itu diberikan juga tanda seperti pada tempat-tempat lain yang kita sebut di atas. Pada Candi Gebang maka puncaknya yang berbentuk lingga itu lah yang dapat kita pandang sebagai lingga pusat. Dengan demikian maka daerah suci itu di batasi juga dengan cara seperti lazimnya. Tetapi dengan cara demikian candi itu menjadi patok juga, dan sekarang timbul pertanyaan apakah sebenarnya fungsi candi tersebut yang terutama. Adakah ia merupakan penandaan "magis" pusat lapangan yang suci itu ataukah merupakan kuil bagi patung dewa yang ada di dalamnya? Pertanyaan itu barangkali kelihatannya dicari-cari dengan mudah dapat dijawab. Bukankah perhatian sepenuhnya ditaruh pada perumahan untuk lambang dewa itu? Tetapi kalau kita pikirkan bahwa candi yang perkasa sekalipun seperti Candi Çiwa di Prambanan yang tingginya 47 m itu, harus bergeser ke utara untuk memberikan tempat kepada mercu kecil, yang tidak menarik perhatian dan sedikit banyak agak disamarkan, yang didirikan di atas pusat lapangan percandian, maka tidak di atas pusat lapangan percandian, maka tidak boleh tidak kita akan mendapat kesan bahwa tempat itu sangatlah penting, tetapi penandaannya tidak. Demikianlah maka masalah-masalah yang banyak yang masih harus dipecahkan oleh para ahli purbakala bertambah lagi dengan satu soal.

Di atas tekah diceriterakan tentang banyak masalah yang aneh dan menarik perhatian, yang ditimbulkan oleh penyelidikan dan pembangunan kembali candi kecil di sebelah selatan Gebang, yang mula-mula tidak kita kenal sama sekali itu. Orang jangan sekali-kali mengira, bahwa candi itu adalah suatu perkecualian dengan keanehan-keanehan yang luar biasa banyaknya. Tiap-tiap cangkul yang ditajakkan oleh ahli purbakala ke dalam tanah lapangan kepurbakalaan selalu membawa hal-hal baru yang tak terduga-duga, dan makin lanjut penyelidikan itu, makin kayalah macam ragam pengetahuannya. Karena itu maka pekerjaan ahli purbakala itu bagi seorang yang mempunyai kecerdasan, pandangan yang kritis, fantasi dan keberanian, mengandung penuh hal-hal yang tak terduga-duga yang sangat menarik dan patut mendapat ketekunan sepenuh-penuhnya dari mereka yang mempelajarinya.