Permainan Rakyat Daerah Kalimantan Selatan/Buta Lele

1. Nama permainan

Masyarakat Kabupaten Kotabaru dimana permainan ini ditemukan menamakannya Buta Lele. Berdasarkan informasi yang dapat dikumpulkan bahwa permainan ini sejak dulu sudah disebut demikian. Walaupun nama tersebut terdiri dari kata buta dan Lele, sebenarnya tidak mempunyai hubungan arti dengan buta yang berarti tidak melihat dan Lele yang berarti jenis ikan. Buta Lele adalah satu kata yang menjadi nama permainan tersebuf sejak para informan masih kecil dan ikut memainkannya.

Selain dari Kabupaten Kotabaru, permainan ini ditemukan juga di

Kabupaten lainnya yaitu Kabupaten Tabelong, Namanya adalah Panili.
Apa sesungguhnya arti Panili tersebut masih belum didapatkan keterangan yang pasti.

2. Peristiwa/waktu

Permainan ini adalah permainan anak anak yang dilakukan pada waktu senggang baik pagi maupun sore hari. Kalau permainan dilakukan di waktu pagi biasanya anak anak mengambil waktu istirahat belajar pagi di sekolah. Apabila di waktu sore hari mereka memainkannya dalam pergaulan sehari hari sebelum pulang mandi.

Dari uraian para informan ternyata permainan anak-anak di dapat

bersifat perseorangan atau beregu. Pemainnya bisa mencapai 6 orang. Waktu yang dipakai untuk permainan ini cukup panjang sehingga apabila dimainkan waktu anak anak istirahat belajar di sekolah, pesertanya tidak lebih dari 4 orang.
Tidak ada hubungan deogan peristiwa sosial lainnya.

3. Later belakang sosial budayanya.

Permainan ini dimainkan oleh anak anak dari segala lapisan masyarakat. Anak dari golongan apa saja dalam masyarakat dapat memainkankannya. Anak nelayan, anak petani, anak pedagang, anak pegawai dan lain sebagainya bermain bersama - sama memainkan permainan ini.

Jelasnya permainan ini tidak dimainkan oleh golongan tertentu saja

dalam masyarakat.

4. Latar belakang sejarah perkembangannya

Beberapa permainan biasanya mempunyai sejarah perkembangan nya sendiri - sendiri. Baik permainan itu tradisional maupun yang non tradisional. Para informan yang berusia rata rata 50 tahun lebih menyatakan bahwa pada waktu mereka kecil permainan ini sudah ada dan merupakan jenis permainan yang disenangi anak.

Dari keterangan informan diketahui bahwa Buta Lele sudah ada dan berkeml>ang sejak sebelum kemerdekaan. Sekarang permainan ini sudah

jarang terlihat dimainkan oieh anak anak. Hanya oleh anak SD kadang kaOOig dimainkan.

5.Peserta/pelaku

  1. Jumlahnya
    Jumlah pemain sekurang kurangnya 2 orang. Sifat permainan adalah perorangan atau beregu; Jumlah maksimum pemain tidak ada ketetapan yang mutlak. Umumnya tidak lebih dari 4 orang dalam permainan perorangan, Kalau lebih dari 4 orang biasanya dianggap terlalu banyak karena permainan ini cukup memakan waktu.
    Apabila beregu, jumlah pemain tiap regu minimal 2 orang, mak simum 4 orang.
  2. Usianya

    Usia anak yang melakukan permainan ini antara 9 sampai 12. Usia dibawah 9 tahun masih dibolehkan, hanya agak jarang diikut sertakan, karena anak yang berusia 6 tahun misalnya, dikuatirkan akan memperlambat jalannya permainan karena permainan ini memerlukan juga ketrampilan menghitung.

    Di samping itu diperlukan juga ketrampilan memukul dan menangkap sebab alat permainan tersebut terdiri dari potongan kayu kecil sebagai pemukul dan benda yang dipukul.
  3. Jenis kelamin
    Permainan ini hanya dimainkan oleh anak laki laki saja walaupun tidak ada larangan bagi anak perempuan. Karena dalam pelaksanaan yang permainan ini yaitu waktu mengungkit, anak harus menungging tidak sesuai dengan kewanitaan.
  4. Kelompok sosialnya
    Permainan terdiri dari anak anak segala lapisan masyarakat, tidak
terbatas ada golongan tertentu dalam masyarakat. Mungkin anak petani, anak nelayan, anak pedagang dan lain sebagainya. Mereka bermain bersama-sama.
  1. Peralatan/perlengkapan permainan
    1. Lapangan permainan

      Lapangan yang dipergunakan untuk bermain adalah halaman sekolah, halaman rumah atau tempat lainnya yang cukup luas dan keras. Ukuran lapangan panjangnya antara 15 sampai 20 Meter dan lebarnya lk. 3-4 meter. Bagian ujung lapangan dibuat lobang dengan ukuran lebar 3-4 cm, panjang 8-10 cm, dalamnya 3 cm. Cara membuatnya ialah dengan kayu yang agak tajam. Gambar sketsa I (lapangan permainan):

    2. Alat permainan

      Alat yang dipergunakan dalam permainan adalah potongan kayu atau potongan batang rotan yang bentuknya bundar dan lurus. Ada dua macam alat tersebut yaitu induk dan anak

      Gambar sketsa II (alat permainan):

      Induknya berukuran panjang 30cm, garis tengah 1½ - 2cm.

      Anaknya berukuran panjang 10cm, garis tengah 1½ - 2cm.

  2. Iringan musik
    Tidak ada iringan atau ilustrasi musik dalam permainan.

8.Jalannya permainan

  1. Persiapannya

    Anak anak yang akan bermain, berkumpul bersama sama mencari tempat yang cocok untuk bermain. Setelah menemukan tempat yang sesuai mereka langsung membuat lobang yang dibuat dengan kayu dengan ukuran 4 - 5 cm; dalam 3 - 4 cm dan panjang 10 cm.

    Selain dari pada lapangan permainan, alat permainan disiapkan juga sebelumnya baik yang dibawa dari rumah maupun dari sekolah>Kadang-kadang dapat juga terjadi bahwa alat permainan batu dicari waktu akan bermain.

    Disamping mempersiapkan lapangan alat permainan jumlah peserta harus ditetapkan lebih dahulu. Begitu pula sifat permainannya apakah beregu ataukah perorangan. Permainan ini bisa beregu dan dapat pula perseorangan

    Adapun aturan-permainan dan beberapa perjanjian permainan dimulai biasanya diberitahukan dan disepakati lebih dahulu antara sesama pemain. Hal ini perlu untuk menjaga kelancaran jalannya permainan.
  2. Aturan permainan
    Adapun aturan permainan dan perjanjian yang harus disepakati bersama adalah :
    1. Pemain yang naik (peserta yang akan memulai permainan ) dalam melakukan permainan tahap I, II dan III tidak boleh mengungkit atau memukul kayu anak keluar batas lebar lapangan. Kalau dilanggar pemain yang naik mati. Pemain yang naik, baru boleh memulai permainan tahap I, II atau III sesudah pemain yang jaga siap di lapangan. Apabila dilanggar, permainan harus diulang kembali.
    2. Dalam permainan tahap II pada waktu penjaga melemparkan kembali kayu anak ke arah lobang, pemain yang naik berhak menangkis/memukuli kembali kayu anak tersebut sejauh kayu anak tersebut masih berada di udara atau bergerak di atas tanah. Apabila sudah berhenti di atas tanah, tidak boleh dipukul oleh pemain yang naik. Apabila aturan ini dilanggar, tangkisan dianggap tidak sah.Perhitungan nilai dihitung dari tempat kayu anak tersebut berhenti ke arah lobang.
    3. Nilai yang didapat dari setiap pemain yang naik pada tahap ke dua dan ke tiga dihitung dari tempat jatuhnya kayu anak berada ke arah lobang dengan mempergunakan kayu induk. Apabila dalam
an tahap ketiga pemain yang naik sebelum memukul anak jauh ke depan dapat menimang kayu anak 1 kali, nilai yang didapat dilipat dua kali. Kalau dapat menimang dua kali akan mendapat nilai tiga kali lipat
5)  Penjaga yang dapat menangkap kayu anak yang melambung di udara baik dalam tahap I, II atau III akan mendapat tambahan nilai 10 atau 15 berdasarkan perjanjian antara pemain.
c. Tahap tahap permainan

Setelah semua persiapan diselesaikan, para pemain melakukan hum-pih-pah. Dalam tahap permainan ini akan diuraikan pertama jalannya permainan yang bersifat perorangan. Misalkan dalam hum pih pah tersebut A sebagai pemain yang pertama, B yang ke dua dan C yang ketiga.

Dalam tahap permainan ini akan terjadi siklus sebagai berikut:

Apabila A jadi pemain yang naik. B jadi penjaga. Apabila B jadi yang naik, C sebagai penjaga. Kalau B mati C naik, A sebagai penjaga dan seterusnya perputaran permainan ini berjalan sampai selesai.

Apabila dalam siklus permainan ini ternyata A dalam waktu yang singkat dapat mengumpulkan nilai sehingga mencapai batas niali ayang sudah dijanjikan misalnya 500 maka A dinyatakan sebagai pemenang I dan harus berhantu bermain. Siklut selanjutnya terjadi antara 2 pemain saja.

Adapun tahap tahap permaianan dalam Buta Lele ini adalah sebagai berikut:

Tahap pertama yang ditempuh dalam jalannya permainan ialah, A sebagai pemain yang naik berdiri dekat lobang dalam posisi menunduk dengan kedua tangannya memegang bagian ujung kayu induknya siap mengungkit kayu anak yang terletak melintang lobang.

Adapun B menjaga berdiri di depan A dalam jarak kira kira 5 meter, menjaga kayu anak yang terlempar karena diungkit A dan siap menangkapnya.

Gambar sketsa III (pemain A mengungkit kayu anak dan B menjaganya):

Setelah A melihat bahwa B sudah siap menjaganya A mulai mengungkit kayu akan anak tersebut. B berusaha menangkapnya walaupun larinya kayu anak sukar diramalkan ke mana terlemparnya. Bilamana B dapat menangkapnya, B mendapat nilai sesuai perjanjian misalnya 10, sedangkan A mati.

Kalau tangkapan B meleset, kayu anak diambilnya kemudian dilemparkan menuju lobang berusaha mengenai kayu induk yang dipasang A melintang lobang. Apabila B dapat mengenai kayu induk, A mati. Kalau tidak kena maka permainan diteruskan oleh dan B untuk tahap kedua.

Dalam tahap ke dua ini A mengambil kayu anak yang dilemparkan B tetapi tidak mengenai induknya tadi. Dengan tangan kanannya A menggenggam kayu induk pada sebelah ujungnya dengan ibu jari dan telunjuknya menjepit kayu anaknya. Kayu anak diambung atau dilemparkan ke atas dengan perlahan, kemudian dipukul dengan kayu induk sampai terlempar jauh. B berusaha menangkap kayu anak yang terlempar karena pukulan A.

Gambar sketsa IV (A sedang memegang kayu induk dan menjepit kayu anak):

Kedudukan B masih dihadapan A dalam jarak kira-kira 8-10 meter. Mengapa B harus menjaga lebih jauh dari tahap I, karena kayu anak akan terlempar jauh karena pukulan yang kuat.

Apabila kayu anak tersebut dapat ditangkap B maka ia mendapatkan nilai dan A mati. Kalau A mati maka B naik jadi pemain yang naik dan C sebagai penjaga. Apabila B tidak dapat menangkapnya, maka kayu anak tersebut dipungut B lagi kemudian diemparkan ke arah lobang berusaha memasukkannya ke dalam lobang. A berdiri dekat lobang sambil memegang kayu induknya dan berusaha menangkis kayu anak agar tidak masuk lobang dengan jalan memukulkan kayu induknya ke pada kayu anak yang sedang bergerak diudara atau menggelinding di tanah. Misalkan pukulan A kena sehingga kayu anak terlempar, B berjaga-jaga pula menangkapnya. Apabila tertangkap, B dapat nilai dan A jadi mati. Apabila B tidak dapat menangkapnya nilai akan diper

oleh A dengan jalan mengukur jarak antara tempat jatuhnya kayu anak dan lobang, dengan menggunakan ukuran kayu induk. Bilamana jaraknya 10 tumbang, nilai yang diperoleh A 10. Apabila A lepas menangkis kayu anak yang dilemparkan oleh B dan jatuhnya dekat lobang dangan jarak kurang dari ukuran panjang kayu induk, maka A mati. Kalau jatuhnya jauh dari lobang misalnya tiga tumbang kayu induk, maka nilai yang didapat A adalah tiga.

Dengan selesainya mengukur jarak jatuhnya kayu anak dengan lobang tadi baik yang setelah dipukul tadi lepas ditangkap B, maupun yang tidak kena dipukul A, berakhirlah tahap ke dua permainan ini. Selanjutnya diteruskan dengan tahap ke tiga yaitu kayu anak diambil A kemudian diletakkan ke dalam pinggir lobang dengan posisi separo kayu anak mencuat sehingga mudah dipukul dan bisa terlempar ke atas.

Gambar sketsa V ( kedudukan kayu anak di lobang ):

Gambar sketsa VI ( posisi anak yang sedang memukul kayu anak tersebut di lobang ):

Seperti diperlihatkan dalam sketsa VI, A memukulkan kayu induknya pada bagian ujung kayu anak yang mencuat di lobang. Kayu anak akan terlempar ke atas, yang kemudian dipukul A sekali lagi atau dua kali sampai kayu anak tersebut terlempar jauh. Apabila A sesudah memukul pertama kali kayu anak tadi tidak kena pukul yang kedua kali nya, A mati. Apabila kena, B berhasil menangkapnya, B mendapat nilai sesuai perjanjian, A mati. Apabila B tidak dapat menangkap, A mendapat nilai diukur dari tempat jatuhnya kayu anak ke arah lobang deng an ukuran kayu induk.

Bilamana sesudah pukulan pertama, A berusaha memukul perlahan kayu anak kemudian berhasil memukul yang ke tiga kalinya dengan keras, maka A dikatakan dapat menimang satu kali. A akan mendapat nilai dua kali lipat jarak kayu anak dengan lobang, diukur dengan kayu induk. Misalkan A mendapat 15 tumbang nilainya 2 x 15 = 30
Apabila A dapat menimang 2 x, A mendapat nilai 3 kali lipat.

Kalau A dalam permainan tahap ke tiga ini berhasil mendapatkan nilai ini berarti permainan tidak mati, maka permainan tahap ke tiga berakhir dan A berhak memulai permainan lagi, dari tahap pertama.

Demikianlah permainan ini berlangsung sampai 2 orang pemain diantara pemain A, B, C masing masing dapat mencapai nilai sesuai perjanjian misalnya 500. Pemain yang tidak dapat mencapai nilai tersebut dinyatakan kalah.

Dalam permainan beregu prinsip permainan maupun tahap - tahap permainan yang dilalui setiap pemain adalah sama dengan permainan perorangan. Misalnya regu I : A, B, C dan regu II : D, E, F.

Untuk menentukan regu yang naik dilakukan hum - pinsut oleh wakil dari setiap regu. Misalnya regu I naik, maka seluruh pemain regu II yaitu D, E, F bersama -sama menjaga di lapangan dengan posisi bebas. Regu yang naik bebas untuk: menentukan siapa yang akan main lebih dahulu. Misalkan A main lebih dahulu, maka A main terus sampai mati Apabila A mati diteruskan oleh B atau C, Misalkan B yang main.
la B mati, diganti oleh C. Jadi prinsip permainan ini setiap anggota regu misalnya A, B, C akan mendapatkan giliran main sampai setiap pemain mati. Baru setelah semua pemain yang naik mati, permainan diganti oleh regu berikutnya jadi D, E, F yang main dan regu A, B, C yang jaga. Nilai yang didapat dari setiap regu diperoleh dengan jalan menjumlahkan nilai yang diperoleh setiap pemain dalam satu regu. Regu dinyatakan menang apabila telah mencapai nilai sesuai perjanjian, misalnya 1000.

d. Konsekwensi kalah menang

Misalnya jumlah pemain 3 orang. Temyata A dan B menang. Pemain yang kalah biasanya kena sanksi. Sanksinya ialah pemain yang kalah harus membawa kayu anak yang terlempar jauh dari lobang karena dipukul berturut - turut tiga kali oleh pemain yang menang dengan berjalan bainting - intingan [ berjalan dengan sebelah kaki ]. Caranya ialah yang menang pertama kali misalnya memukul kayu anak dengan kayu induk mulai dari lobang. Pukulan ke dua dilakukan oleh B dari tempat dimana jatuhnya kayu anak sehingga menjauhi lobang. Dari tempat jatuhnya kayu anak hasil pukulan terakhir [ B ] , C mengambil kayu anak tersebut sambil bainting intingan dibawa sampai ke lobang. Para pema

194
in yang menang bersorak sorak dengan kata kata: "membawa tulang babi.......... membawa tulang babi". C harus menerima kekalahannya dengan senang hati, walaupun merasa agak malu karena disoraki oleh pemenang.
Apabila permainan tersebut dilakukan secara beregu, maka salah seorang pemain yang kalah membawa kayu anak dengan bainting-intingan sedangkan yang lain mengikuti dari belakang.

9. Peranannya masa kini

Pengaruh serta peranan yang didapat dari permainan ini ialah bahwa anak anak selain teriatih ketrampilaa dalam memukul dan menangkap, juga terlatih kejujuran dan kesediaan menerima kekalahan. Jadi mental anak ditempa untuk bisa dan biasa berbuat yang baik sebagai anggota masyarakat.

10. Tanggapan masyarakat.


Meski pun ada unsur positifnya yang didapat dari permainan seperti ketrampilan dan sebagainya, namun masyarakat terutama orang tua sebagian besar melarang karena cukup berbahaya bagi anak terutama kalau alat permainannya dibuat dari kayu yang kering, keras dan besar.
Masyarakat dapat menerima permainan ini tetap dikembangkan asal alat yang dipergunakan dicarikan yang tidak membahayakan, misalnya kayu yang kecil.


BUTALELE


Seorang pemain berusaha memukul kayu anak yang diambung ke atas dengan kayu induk


Seorang pemain berusaha memukul kayu anak yang diletakkan dalam lubang permainan dengan kayu induk.

PETA PERMAINAN RAKYAT DAERAH
KALIMANTAN SELATAN